Posts filed under ‘Uncategorized’
Surat untuk Doraemon; Onegai, Doraemon! :’(
Doraemon, tolong pinjamkan aku pintu kemana saja
biar aku bisa ketemu Qisthi setiap hari
Doraemon, tolong pinjamkan aku pil penyendiri
biar aku bisa menyendiri dari dia (atau mungkin mereka) untuk sementara (atau selamanya)
atau pinjamkan aku baling-baling bambu, biar aku bisa terbang ke langit, dan membangun istana awan untuk persembunyianku disana
Huh, aku pengecut ya?
Atau, berikan aku jamur bakat, agar aku bisa punya bakat seperti dia, agar aku tidak menjadi orang <b> bodoh </b> dan <b> menyusahkan</b> lagi dengan <b> kebodohanku</b> ini.
Hmm.. terkesan tidak mau jadi diri sendiri?
Atau, berikan aku <b> DORAEMONKU SENDIRI</b>, yang selalu ada saat aku sedih dan senang
yang bisa menghiburku dan membantuku
Hm.. mengapa aku tidak meminta kantong cadangan saja ya?
Ng.. memang sih aku bisa melakukan semua hal dengan kantong cadangannya
menghajar orang yang aku benci dengan senapan angin
tak pernah terlambat pergi sekolahkarena pake baling-baling bambu
mengerjakan peer dengan pensil komputer,
dll
tapi, kantong cadangan saja tidak cukup bagiku
Hm.. rakus ya? haha
Bukan itu.
Aku butuh Doraemon yang bisa membelaku seperti saat Doraemon membela Nobita saat di jahati oleh Suneo dan Giant
Aku butuh Doraemon yang selalu menghiburku seperti Doraemon yang menghibur Nobita saat dia dikucilkan oleh Suneo dan Giant
Aku buruh Doraemon yang selalu ada untukku seperti Doraemon yang selalu ada untuk Nobita.
Kalau Nobita, akhirnya hanya membuat Doraemon marah, kalau aku, berjanji takkan seperti Nobita
Tapi, adakah Doraemon itu?
Shirimasen ….
:’(
please, be my Doraemon!
*nulis note ini pada jam 15:15 sambil nangis dan bayangin Doraemon di samping aku sambil senyum lebar*
Tambah komentar Agustus 20, 2009
VW kombi ceria suka-suka :D
note ini berdasarkan khayalan semata, tapo semoga jadi nyata (amin)
entah kenapa, tiba-tiba aku keingetan sama The Tarix jabrix 2 yang ada VW kombi-nya yang bagus dan imut meskipun bekas (ceritanya)
abis nonton The Tarix jabrix 2, aku langsung keingetan sama bapa aku yang koleksi mobil-mobilan mini, dan kebetulan bapa punya 7 buah mobil mini jenis VW kombi yang beda-beda warna sama modelnmya. diantara tujuh itu ada satu yang MIRIP BANGET sama yang ada di The Tarix jabrix 2 jadi aku ambil trus dipajang di kamar.
tiba-tiba (ini ngayalnya pas lagi nyetrika, gatau kenapabisa tiba-tiba keingetan) aku ngayal, coba kalo aku punya VW kombi, kan seru ya, ngajak jalan-jalan temen-temnen SEPUTARAN DAGO SEPERTI BIASA SUKA-SUKA *hehe* atau GILA-GILAAN BERSAMA TEMAN-TEMAN GILA-GILAAN DI AKHIR PEKAN GILA-GILAAN SAMBIL JALAN-JALAN GILA-GILAAN BERBURU MAKANAN sambiul gaya kaya The Changcuters, hehe. Sama changcut rangers haha, terutama astrid *haha*
Ya Allah, ntar kalo punya mobil, pingin VW kombi.
hehe ngarep boleh kan
ah, mau tahajud lagi ah.. minta VW kombi. Amiiiiiin !!!!!

Tambah komentar Agustus 20, 2009
Dandelion
Dandelion, bunga yang termasuk familia Asteraceae adalah bunga yang sangat indah, dan juga kuat.
Aku suka Dandelion, genus Taraxacum ini. Suatu hari, aku memetik bunga dandelion yang sudah mekar, setelah menjemput adikku pulang dari latihan taekwondo-nya.
“De, liat, ada bunga dandelion.”
Adikku mengangguk-angguk.
Aku membawanya pulang. Sampai di rumah, aku melihat bunga itu tiba-tiba menjadi kuncup, mungkin karena suhunya dingin. Tapi karena akhirnya busuk, aku membuangnya ke tempat sampah kamarku.
Suatu hari, aku sedang mencari barang yang hilang. aku pun mencari-carinya kemana-mana, termasuk tempat sampah, saat ku lihat didalam tong sampah ada bunga dandelion yang dulu kubung, sekarang bibit-bibitnya sudah muncul! Aku sangat senang dan menanamnya di rumah.
Dandelion memang hebat. Tiap bibit-bibitnya terbang, terbang, terbang siang dan malam tak henti-henti, demi menuju tujuan hidupnya. Selain itu, ia pun bisa tumbuh dimana saja.
Ah, dandelion, kapan aku sepertimu?
Tambah komentar April 23, 2009
Hujan-cerpen aku
Hujan. Tepat saat bel pulang berbunyi. Anak-anak lalu berhamburan keluar ke gerbang sekolah. Aku membuka payung merah mudaku sambil berjalan keluar gerbang.
“Uli!”
Tiba-tiba ada yang memanggil namaku dari belakang. Aku tidak menoleh ke belakang, dan aku pun tidak memberhentikan langkahku. Karena aku sudah hafal suara itu. Suara sahabatku, suara Ita.
“Uli!!!”
Ita masih memanggil namaku. Aku semakin mempercepat langkahku. Aku langsung menaiki angkot hijau yang sudah menunggu penumpang. Seolah tahu maksudku, angkot yang kutumpangi pun tancap gas sekonyong-konyong. Tetapi Ita masih tetap mengejarku. Meskipun hujan lebat tak mau berhenti membasahi peluh dan tubuhnya. Hingga…
Ita terjatuh.
Aku tak tega melihat sahabatku sendiri. Tapi aku tak tau harus berbuat apa.
Hujan masih belum mau berhenti. Ditengah derasnya hujan, kulihat seorang laki-laki—kira-kira sepantar denganku—memberhentikan angkot yang kutumpangi, lalu duduk di depanku. Kami duduk berhadapan. Laki-laki itu tampak terkejut melihatku. Aku pun memandangnya tak percaya. Itu Alvin. Pacar Ita yang membuat Ita menjadi berubah sikapnya. Ita mulai lupa denganku. Ita terlalu sibuk dengan Alvin, tanpa memikirkan perasaanku! Aku dianggap seperti sampah!
“U…Uli kan?”
Aku tidak menghiraukannya. Aku hanya mengangguk cepat.
“Kamu Uli temennya Ita kan?” tanya Alvin lagi. “Iya. Terus kenapa?” jawabku dengan nada jutek. Alvin tampak takut padaku. “Kamu marahan ya sama Ita?” tanya Alvin. “Emang gara-gara siapa aku marahan sama Ita? Hah!?” jawabku kasar. Alvin tertunduk.
“Sori kalau gara-gara aku… Ita jadi… eh…” ucapnya gelagapan. Aku hanya memandangnya dengan perasaan benci dan marah. Alvin makin tertunduk. Ia tidak berkata apa-apa lagi.
Tepat di depan kompleks rumahku, aku turun. Hujan belum mau berhenti juga. Alvin masih memandangku. Aku tidak peduli. Setelah membayar ongkos, aku membuka payungku tanpa menghiraukan Alvin. Angkot pun melaju pergi. Aku berjalan kaki menuju rumahku ditemani hujan dan payungku.
Ditengah jalan menuju rumahku, seorang anak kecil—kira-kira berumur lima tahun—berlari ke arahku. “Kak Uli pulangnya bareng sama Kak Ita gak?” tanya Raka—nama anak itu. Raka adalah adik Ita yang masih duduk dibangku TK B. Aku menggeleng. “Maaf Raka, Kak Uli gak pulang bareng Kak Ita.” Ucapku. “Padahal, Kak Ita janji mau bikin kue bareng…” gumamnya sedih. Aku merasa kasihan sekali pada anak itu. Rela hujan-hujanan demi menunggu kakaknya pulang. Aku jadi merasa bersalah, mengapa tadi aku meninggalkan Ita.
“Raka mau kakak anterin ke rumah gak?” tawarku. Raka langsung mengangguk cepat, sambil berlindung dibawah payungku. Kami lalu berjalan ke rumah Ita yang jaraknya hanya berbeda 10 meter saja.
***
Aku hanya memandang isi piringku sepanjang makan siang. Padahal aku sengaja memesan duluan makan siangku hari ini, yaitu makanan kesukaanku. Nasi goreng spesial dengan sambal yang banyak, telur, udang, dan yang lebih spesial lagi, pakai nanas yang tidak Kak Agus—kakakku—sukai.
“Lho, Uli kok makanannya enggak dimakan? Kan Uli yang mesen makan siang ini. Sampai-sampai Kak Agus tidak berani makan—karena ada nanasnya.” ucap Ibu. “Uli gak laper, bu. Uli makannya nanti aja.” kataku tidak semangat. Ibu menatapku heran. Biasanya, aku selalu makan dengan lahap, apalagi kalau makan dengan menu favoritku.
“Uli lagi ada masalah ya, disekolah? Nanti biar Ibu yang bicara dengan Ibu Guru. Atau, Uli sakit ya?” kata Ibu khawatir. Aku menggeleng. “Nggak ada apa-apa kok, bu. Uli baik-baik aja” jawabku pelan. “Ya sudah kalau Uli enggak mau cerita sama Ibu. Sekarang nasi gorengnya dimakan ya?” ucap Ibu lagi. Ah, ibu… Andaikan saja ibu tahu apa yang aku rasakan sekarang…
***
Hujan masih mengguyur bumi. Aku hanya memandang buku pelajaran yang terbuka dari tadi. Kulihat jendela kamarku yang mengahadap ke sebuah jalan kecil. Aku jadi teringat masa kecilku dulu. Waktu itu aku pernah balapan sepeda bersama Ita di jalan ini. Aku yang menang, dan Ita yang kalah harus menggendongku pulang ke rumah. Kami tertawa bersama.
Di jalan kecil ini pun Ita pernah menangis karena terjatuh saat pertama kali belajar sepatu roda. Waktu itu aku masih ingat betul, Ita belajar sepatu roda karena tidak mau dibilang kampungan oleh teman-temannya. Pada saat itu sapatu roda sedang sangat nge-tren. Tetapi sifat Ita yang pantang menyerah itu pun membuatnya untuk bangun dan bangun lagi, meskipun ia sudah terjatuh berkali-kali.
Atau pada saat kami bermain petak umpet di jalan ini. Saat bagianku jaga, Ita bersembunyi jauh sekali. Aku tidak bisa menemukannya. Sampai hari sudah gelap pun, Ita masih belum bisa aku temukan. Aku menangis. Lalu aku pergi ke rumah Ita, masih dengan air mata. Saat aku ke rumah Ita, ternyata Ita bersembunyi di kamarnya sampai dia tertidur. Rupanya dia lupa dengan permainan petak umpetnya. Ita yang semula bingung melihatku menangis, langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ceritaku. Aku masih ingat dengan kejadian-kejadian itu. Sulit untuk kulupakan.
“Uli! Ada Raka di depan mencari Uli!” seru Ibu tiba-tiba, ditengah lamunanku. Aku langsung beranjak menuju halaman rumahku. Kutemui Raka yang sudah mengeluarkan air mata sambil terisak.
“Raka! Ada apa?” tanyaku khawatir. Ku dekati anak itu. “Kak Uli…hik…hik…Kak Ita …” jawabnya sambil terisak. “Ada apa dengan Kak Ita, Raka?” tanyaku lagi penasaran. “Kak Ita meninggal, Kak! Hik..hik..” jawabnya sambil masih terisak. “Apa?! Kak Ita meninggal?” tanyaku tidak percaya. “Ya, kak. Hik…hik. Kak Ita meninggal… Hik…hik..”
Petir menyambar keras sekali. Dadaku terasa tercekat. Air mataku sudah tidak terbendung lagi. Innalillahi wa inna illaihi rojiun.
“Tadi Kak Ita pulang. Badannya basah kuyup, Kak. Hik…hik…” ceritanya sambil masih terisak, lalu menarik nafas panjang. “Terus Kak Ita langsung pingsan pas masuk ke rumah. Kakak lemas banget, Kak Uli. Hik…hik… Tapi untung Kak Alvin bawa Kak Ita ke rumah. Kalau enggak, sakit jantung Kak Ita bisa kambuh lagi… Hik…hik… Tapi pas Kak Ita mau dibawa ke rumah sakit, Kak Ita udah keburu pergi… Kata dokternya, Kak Ita udah enggak tertolong lagi… Hik..hik… ”
“Apa?! Kak Ita sakit jantung? Sejak kapan? Kenapa Kak Ita enggak cerita sama Kak Uli?” tanyaku bertubi-tubi. Setahuku, Ita selama ini sehat-sehat saja. Jika Ita punya masalah pun, ia tidak pernah merahasiakannya padaku.
“Kak Ita sakit jantung sejak dua bulan yang lalu, Kak. Hik…hik… Katanya Kak Ita sakit jantung soalnya keturunan dari Ayah. Kemarin Kak Ita bilang kalau hari ini Kak Ita mau bicara semuanya sama Kak Uli, sebelum Kak Ita pergi. Tapi Raka enggak tau kak Ita mau pergi kemana. Sekarang Raka tau, Kaka Ita ternyata mau pergi jauh…”
Air mataku semakin deras mengalir. Sama seperti hujan yang semakin deras membasahi bumi. Aku memeluk Raka erat-erat. Aku tak bisa kehilangan sahabatku sekarang. Aku belum siap menghadapi semuanya, aku bahkan belum sempat melihat senyuman terakhirnya. Aku masih ingin melihat senyuman dan tawanya, mendengar suaranya, bersepeda bersamanya, menangis bersamanya, bahkan dia belum menerima Ijazah kelulusannya. Aku ingin melihat dia naik ke atas podium, menerima Ijazah-nya. Dengan nilai tertinggi dari semua anak di sekolah, seperti tahun-tahun yang sebelumnya. Ita, kenapa kamu pergi secepat itu?
***
“Yang menempati tingkat pertama adalah, Yulia Dwi Maharani Putri!” seru Pak Kepala sekolah. Aku naik ke atas podium untuk menerima penghargaan. Sudah 6 bulan setelah kepergian Ita. Aku berusaha membuat Ita tersenyum di sana. Ita pun pasti akan bangga denganku. Aku sadar, aku tidak boleh terlalu tenggelam dalam kesedihan. Mungkin Allah terlalu sayang padanya, sehingga ia dipanggil secepat itu. Ita, senyumanmu bagai pelangi yang datang menyusul kala hujan datang menyapa. Kau selalu ada di hatiku.
cerita ini hanya rekayasa, bkn sebenarnya!
Tambah komentar April 23, 2009
Hello world!
hai dunia! selamat datang di blog baruku. semoga gak ngebosenin ya ngebacanya.
)
1 komentar April 23, 2009